Kota Pare Pare di Sulawesi Selatan dikenal sebagai kota pelabuhan yang ramai dan berkembang. Namun, di balik hiruk-pikuk kehidupan perkotaan yang dinamis, terdapat kisah inspiratif seorang perempuan tangguh bernama Hayati yang berhasil menorehkan prestasi melalui usaha kue rumahan yang kini menjelma menjadi bisnis kuliner terkenal di Pare Pare dan sekitarnya.
Hayati memulai usahanya dari lingkungan rumah kecil di pinggiran kota Pare Pare pada tahun 2005. Saat itu, ia hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang ingin membantu suami memenuhi kebutuhan keluarga. Dengan bermodalkan keahlian dasar membuat kue dari resep warisan orang tua dan niat tulus, ia mulai memproduksi kue-kue kecil dan sederhana, seperti bolu kukus, kue lapis, dan beberapa kue tradisional Bugis.
Perjalanan Hayati tak selalu mulus. Modal yang sangat terbatas membuatnya harus memutar otak dalam membeli bahan-bahan kue. Ia memulai dengan alat seadanya, bahkan oven dan mixer pun masih meminjam dari tetangga. Salah satu tantangan terbesar adalah pemasaran produk, karena belum banyak orang mengenal hasil karyanya.
Hayati pun berinisiatif memasarkan kue produksinya ke tetangga, keluarga, dan rekan arisan. Sedikit demi sedikit, kualitas dan rasa kue buatannya mulai dikenal. Pelanggannya pun mulai bertambah, bahkan mulai menerima pesanan untuk acara ulang tahun, hajatan, hingga pengajian.
berjalannya waktu, usaha kue Hayati semakin berkembang. Tidak hanya melayani pesanan dari warga Pare Pare, namun juga mulai menerima pesanan dari luar kota seperti Makassar, Pinrang, dan Barru. Salah satu momen yang sangat membanggakan adalah saat ia mendapatkan kesempatan untuk mengikuti bazaar kuliner lokal yang diadakan oleh dinas pariwisata Pare Pare. Stand kue Hayati selalu ramai dipadati pengunjung dan sering menjadi favorit.
Melalui berbagai inovasi, Hayati berhasil menciptakan produk andalan seperti Kue Bugis Mandar, Pisang Epe, Bolu Karamel, dan aneka brownies. Ia juga menerima pesanan kue custom berbentuk unik sesuai permintaan pelanggan.
Namanya pun mulai dikenal di kalangan pejabat dan tokoh masyarakat lokal. Tak jarang, pesanan kue Hayati hadir dalam setiap acara-acara penting di kota Pare Pare. Selain itu, usahanya pernah diliput dalam program televisi lokal sebagai contoh keberhasilan UMKM kuliner.
Usaha Hayati tidak hanya memberi manfaat secara ekonomi bagi keluarga, namun juga memberikan dampak sosial yang cukup signifikan. Ia telah membuka lapangan kerja baru bagi ibu-ibu rumah tangga di lingkungannya. Kini, lebih dari 10 wanita terlibat aktif baik sebagai pembuat kue, pemasaran, maupun pengantaran pesanan.
Selain itu, Hayati sering berbagi resep gratis dan mengadakan pelatihan pembuatan kue untuk para remaja dan ibu-ibu di Pare Pare. Ia percaya, berbagi ilmu akan membawa manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Kisah Hayati menjadi inspirasi besar bagi generasi muda di Pare Pare dan sekitarnya. Ia membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk sukses, asal disertai niat, kerja keras, dan keinginan untuk terus belajar.
Dalam beberapa kesempatan, Hayati diundang sebagai narasumber seminar kewirausahaan di universitas dan sekolah-sekolah. Ia senang berbagi cerita, memberikan motivasi agar kaum muda tak ragu memulai usaha, apa pun latar belakangnya.
Kisah sukses Hayati dan usahanya, Kue Hayati, tidak hanya menjadi contoh keberhasilan UMKM dari bawah, melainkan juga inspirasi nyata bahwa kunci utama sukses adalah kerja keras, inovasi, kegigihan, dan kepedulian pada lingkungan sekitar. Dengan modal awal yang minim, Hayati membuktikan bahwa siapapun bisa berkembang dan membangun usaha yang berdampak luas, asalkan sungguh-sungguh dan konsisten.
Hingga kini, Kue Hayati telah menjadi salah satu kuliner favorit warga Pare Pare yang dicintai lintas generasi, menjadi saksi bahwa usaha kecil, jika ditekuni dengan hati, dapat menjadi besar dan membawa manfaat bagi banyak orang.